Dear Blogary,
Ini essay kedua saya yang berbicara tentang slogan/motto kampus, yah kurang lebih saya memaknai slogan itu berusaha untuk keluar dari klise-klise pemahaman klasik, maunya tanggung jawab itu bukan suatu keharusan saja, tetapi lebih kepada panggilan yang kita responi dengan ketulusan dari dalam hati.
“Yes, Responsibility definitely begins with me!”
Responsibility Begins With Me!
Oleh: Fransiskus Adrian Tarmedi
Mungkin tidak banyak dari kita sebagai mahasiswa yang mengetahui sejarah dibalik atau semboyan atau motto “at UPH responsibility begins with me” meskipun setidaknya pernah mendengar semboyan tersebut di kampus UPH. “at UPH responsibility begins with me” ini dibuat oleh Almarhum Bapak Bul Penyami, mantan pembantu rektor III bidang kemahasiswaan periode 1994-2001. Beliau pernah berkata bahwa tanggung jawab adalah mandat budaya dari Tuhan sendiri kepada manusia untuk bekerja semaksimal mungkin sesuai dengan mandat dan wewenang yang diberikan. Hal ini mengacu kepada kitab Kejadian 1:26-28, ketika mandat dan tanggung jawab di berikan Tuhan kepada manusia untuk mengelola alam semesta beserta isinya sesuai dengan kekuasaan dan kewenangannya yang sudah diberikan kepada manusia. Semboyan itu juga mengajarkan bahwa definisi pemimpin adalah seorang harus memiliki sifat yang bertanggung jawab, bukan yang mengelak tanggung jawab, karena menurutnya dalam hidup keseharian sikap bertanggung jawab adalah satu-satunya hukum keberhasilan.
Cukup sekian tentang latar belakang motto tersebut, dulu ketika mendengar motto itu, saya seringkali membuat jokes di antara teman-teman, ketika keluar dari kampus saya pernah berkelakar tentang sampah yang berserakan di jalan luar UPH dan berkata “at UPH responsibility begins with me but at here (di luar UPH) responsibility begins with you.” dan mereka tertawa terbahak-bahak. Sungguh sangat ironis memang di satu sisi tanggung jawab bisa saja ada karena dipaksa oleh peraturan, tetapi pada praktiknya hanya merupakan formalitas saja, padahal kalau mengacu pada definisi filosofis sang pembuat semboyan yang sepakat dengan definisi Sang pemberi mandat dan wewenang pada manusia, seharusnya tanggung jawab itu diterima dan dilaksanakan dengan tulus sepenuh hati tanpa paksaan. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah apakah ini hanya konsep ideal yang tidak berpijak, apakah benar bahwa natur manusia yang egois selalu mencari kesenangan dan kepuasan pribadi dan senantiasa melupakan tanggung jawabnya, membuat tanggung jawab (responsibilities) bukan dimulai (begins) oleh saya (me), tetapi senantiasa melempar tanggung jawab ke pihak lain.
Mencoba mengutip dua tokoh yang kebetulan bernama mirip yang berbicara tentang tanggung jawab, satu tokoh fiksi Ben Parker dalam Spider Man, nasihat paman Ben kepada “With great power comes great responsibillity” yang membuat Peter Parker muda berani mengambil tanggung jawab dan melaksanakan dengan baik sebagai manusia laba-laba dalam menjaga kota dari kejahatan, ditambah karena salah satu kejadian yang disebabkan oleh kelalaiannya membuat sang paman meninggal ditikam penjahat. Tanggung jawab di sini dekat dengan kekuatan yang kita miliki, berbicara kekuatan berbicara kapasitas, kemampuan kita yang terus berkembang, buah dari konsekuensi logis tersebut maka harus ada tanggung jawab yang didasarkan pada integritas moral untuk menggunakan kekuatan atau kemampuan kita agar tetap berada dalam koridor yang jelas demi kebaikan. Tanggung jawab dalam konteks kekuatan atau kemampuan kita tidak dapat disalahgunakan begitu saja, perlu adanya tanggung jawab yang menyertainya. Pertanyaan yang lagi muncul adalah siapa yang harus mengambil tanggung jawab itu, kalau memang orang-orang yang mempunyai kapasitas dan kemampuan besar harus mengambil tanggung jawab, mengapa pada kenyataannya banyak orang-orang hebat tidak bertanggung jawab, menyalahgunakan kekuasaan hanya untuk kepentingan pribadi semata, hal ini yang perlu dijawab dan dipecahkan bersama.
Tokoh kedua bernama Bern Wheeler, dalam bukunya “the only law of winning” ia menulis bahwa “only constant confrontation to responsibilities reap results”. yang artinya kita jangan saling melempar tanggung jawab, setiap kita harus mengambil tanggung jawab itu dan bersedia menerima serta melaksanakannya. Keberanian dalam mengambil tanggung jawab secara konstan dan teguh melahirkan keberanian untuk melakukan, dan pada akhirnya hal itulah yang membuahkan hasil. Kata-kata yang menarik adalah konfrontasi atau perjuangan yang tidak pernah henti, hal ini berbicara tentang dalam mengambil tanggung jawab tentu saja akan ada banyak pertimbangan yang membuat kita takut dan ragu dalam mengambil keputusan tetapi, Bern Wheeler tetap mengatakan bahwa kita harus tetap konsisten berjuang dalam mengambil dan melaksanakan tanggung jawab itu, dan hasil yang baik adalah buah dari konfrontasi yang meski sakit dan berat tapi akan berhasil kita lakukan.
Bagi saya pengalaman dalam mengambil tanggung jawab sangatlah beragam, saya melihat diri saya bukan orang yang bertanggung jawab secara penuh, karena harus diakui terkadang saya lari dari tanggung jawab, (semoga pengakuan ini menjadi bentuk tanggung jawab saya terhadap ketidak bertanggungjawaban saya sebelumnya, haha) tetapi jika kita melihat dari tanggung jawab yang bisa kita ambil dan laksanakan dengan baik, saya mempunyai dua pengalaman berkesan, yaitu pengalaman bertanggung jawab sebagai penata letak koran kampus “the UPH Connection” dan pengalaman menjadi Ketua Delegasi UPH dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) ke VIII di Universitas Padjajaran, Bandung tahun 2006.
Menjadi penata letak artikel dan kolom (lay-outer) merupakan pengalaman baru bagi saya, tanpa latar belakang desain dan jurnalisme sebelumnya, membuat caci maki dan dianggap remeh menjadi tamu di awal kepengurusan redaksi. Di kepengurusan redaksi yang baru di waktu itu akan ada perubahan mendasar yang dilakukan oleh pimpinan, dimana dari logo, materi berita, semua akan dirubah, dan entah kenapa saya yang masih awam ditnjuk sebagai penata letak sekaligus sebagai penanggung jawab produksi, dengan kata lain jika saya lalai, otomatis koran kampus tidak akan sampai di tangan para mahasiswa pada hari Seninnya. Tanggung jawab sudah saya ambil, tanpa kemampuan yang cukup berarti teori paman Ben tidak cocok, dikala itu saya tidak mempunyai kapasitas dan kemampuan, tapi apakah saya bisa lari dari tanggung jawab, saya berusaha dengan belajar melay-out setiap hari dengan mulai mencari software dan belajar dari senior maupun membaca panduan teknik dari internet, dan akhirnya lay-out saya layak cetak. Masalah datang ketika konsistensi diuji, saya yang bekerja selama empat minggu tidak memiliki rekan layouter dan terpaksa ketika wartawan, editor lainnya yang dibagi menjadi empat shift saya bertahan sendiri, hingga setiap sabtu minggu terpaksa tinggal di Karawaci untuk mengerjakan layout. Di tengah-tengah kepengurusan satu persatu anggota redaksi mengundurkan diri, dan hanya ada beberapa yang tinggal, saya sempat terpikir untuk mengundurkan diri, tetapi mengingat tanggung jawab saya, saya boleh bangga sekarang, ketika masa jabatan berakhir, meskipun peran saya tidak sebesar kawan-kawan lain saya adalah bagian penting dari koran kampus “the UPH Connection”.
Ketua Delegasi UPH, merupakan hal yang sama sekali tidak pernah terpikir oleh saya, kapasitas akademik ada, tetapi pengalaman berorganisasi, mengikuti sidang, mengambil keputusan atas nama institusi dan organisasi merupakan tanggung jawab yang sangat besar, ketika itu hampir tidak ada yang tertarik untuk mengikuti PNMHII, dan akhirnya saya terpilih dan bersama tiga mahasiswa lainnya, kami berangkat mewakii UPH. Konflik internal delegasi merupakan hal yang sangat sulit, ketika kredibilitas saya sebagai ketua diragukan oleh anggota, tetapi tetap yang saya pegang adalah tanggung jawab membawa nama kampus di hadapan mahasiswa-mahasiswa se-Indonesia lainnya. Buah dari tanggung jawab yang saya ambil dan saya laksanakana adalah penghargaan “delegasi terbaik” Universitas Pelita Harapan. Dari hal ini saya belajar bahwa buah dari tanggung jawab merupakan motivasi bagi kita dalam melaksanakan tanggung jawab kita dengan baik.
Mengenai tahapan-tahapan apa yang bisa dilakukan dalam mengambil dan melaksanakan tanggung jawab: Pertama, susun kembali prioritas dan tujuan kita, sehingga tanggung jawab yang akan kita ambil akan sesuai dengan nilai-nilai yang kita percayai dan sedang tuju, Kedua, yakinkan diri anda terlebih dahulu bahwa anda mau dan mampu dalam mengambil tanggung jawab tersebut, sehingga keputusan yang hanya ada ditangan anda tersebut dapat diambil dengan pasti dan dapat dengan yakin anda jalankan. Ketiga singkirkan emosi, rasa takut, malas dan keputusan irasional dalam mengambil dan melaksanakan tanggung jawab anda, sehingga anda tidak dengan mudah lari dari tanggung jawab yang sudah anda ambil. Dan terakhir yang paling penting, sadari dari setiap tindakan dari tanggung jawab yang anda ambil mengandung konsekuensi terhadap orang lain, lingkungan bahkan diri anda, hal itu membuat anda akan berpikir untuk menyelesaikannya dengan baik.
Sekian dari saya tentang tanggung jawab, siapa yang harus memulai tanggung jawab, saya dengan bulat sepakat bahwa tanggung jawab harus dimulai dari diri sendiri, jika terdengar subvokalisasi atau suara dalam hati dalam diri anda ketika dihadapkan pada tanggung jawab di depatn mata, yang berkata “kalau bukan saya siapa lagi?” bagi saya itu merupakan panggilan kuat untuk mengambil dan melaksanakan tanggung jawab tersebut, bukanlah suatu perintah tetapi merupakan mandat kepercayaan, dan saya pikir kita hanya bisa berkata “yes, responsibility begins with me”.
-FIN-