Dear Blogary,
Ini adalah Essay pertama saya dalam mengikuti UPH Award 2008: Nominasi Student of the Year, yah semoga menang, “Everything to gain and Nothing to lose.”
Hai Dunia, Saya Datang!
Oleh: Fransiskus Adrian Tarmedi
Menjalani suatu hidup adalah proses yang panjang dan tidak berakhir, penuh penderitaan, sakit hati, kepahitan, dan kekecewaan, tidak ada kepastian maupun pegangan. Jarak antara harapan dan kenyataan dalam menjalani suatu hidup benar-benar terlalu jauh dan sama sekali berbeda. Hal ini membuat hidup tidak layak untuk di pandang lagi bahkan untuk dijalani, karena apalah gunanya kita menjalani hidup jika apa yang kita harapkan selalu berbeda dengan kenyataan, akan terlalu banyak kesia-siaan ketika apa yang kita mulai tak pernah kita bisa akhiri sesuai dengan mimpi dan harapan kita, dan hidup terasa hampa, nihil, dan dunia adalah mati, termasuk setiap kita, yang merupakan entitas dunia adalah mati. Definisi hidup bukan merupakan suatu proses waktu sebelum menuju kematian, tetapi langsung menjadi menjalani suatu hidup adalah mati.
Tapi menjalani suatu hidup yang bermakna adalah anugrah, proses yang dapat dinikmati bahkan hingga setiap bagian kecil daripadanya. Hidup bermakna sama sekali berbeda dengan hanya sekedar hidup saja, hidup bermakna yang penuh sukacita, kepuasan, dimana kita sudah berhasil menemukan adanya suatu alasan yang menghasilkan kekuatan untuk terus maju dalam memberi makna dalam hidup ini. Bahwa hidup bermakna bukan berarti mati, tetapi suatu proses memaknai hidup untuk terus tanpa putus-putusnya berkarya dan memberi makna bagi dunia kita dan dunia lain di luar kita.
Saya akan menceritakan sedikit kisah tentang dia yang namanya mungkin tidak perlu disebutkan, tetapi saya menjadi banyak belajar dari kisah hidupnya, dimana dia banyak mengajarkan saya tentang hidup mana yang patut kita jalani apakah hanya hidup yang sekedarnya atau kita bisa memilih untuk menjalani hidup yang bermakna. Seorang kawan yang kisah hidupnya saya tahu benar bahkan melebihi dirinya sendiri, dia tumbuh di keluarga yang kurang harmonis, tuntutan dari orang tua yang menjadi beban sepanjang hidupnya menjadi kepahitan sekaligus menghilangkan makna dari hidupnya. Ketidakterbukaan dan kekecewaan yang terus terpendam membuatnya tidak bisa keluar dari perasaan-perasaan yang membuat hidupnya menjadi semakin tidak bermakna, hingga sempat terpikir untuk bunuh diri daripada terus terjebak dalam rutinitas yang terjadi.
Namun semua berubah ketika dia berhasil memaknai hidupnya, tapi sebelum kita beranjak masuk ke dalam apa yang menyebabkan dia dapat memaknai hidupnya, mungkin terdengar klise atau saya sendiri pun sempat berpikir bahwa apakah entitas Tuhan itu ada, dab bukan merupakan bagian dari budaya manusia turun temurun yang disebabkan oleh karena ketidakmampuan mereka dalam memaknai hidup sampai rela bersusah payah mencari makna yang lebih besar dari pada hidup, dalam hal ini dia pun berpikir tentang hal yang sama. Jadi hidup yang sekedarnya itu boleh berubah karena suka tidak suka, mau tidak mau, bahkan percaya tidak percaya, dia yang tidak percaya akhirnya mengakui bahwa hidup yang sekedarnya itu berubah dan termaknai ketika dia mengalami Tuhan. Kisahnya di suatu kebaktian ia mulai berdoa kepada Tuhan yang sebenarnya sudah terkubur dan mati jauh di kenangan masa kecil, dan ada suatu keputusan dari hati untuk meninggalkan hidup yang sekedarnya.
Dia adalah saya sendiri. Teman terdekat sekaligus musuh terbesar, pihak yang paling mengerti saya kedua setelah Tuhan. Perjumpaan dengan Tuhan dan perjalanan iman atau pilgrimage of faith terus berlangsung hingga kini sampai di batas waktu nanti, tapi yang saya mau coba bagikan di sini adalah bagaimana menjalani hidup yang sudah bermakna.
ada beberapa nilai yang saya percayai dalam menjalani hidup, Pertama, menjaga hubungan adalah hal yang paling penting dalam hidup yang bermakna. Dengan hubungan yang baik antar sesama kita meninggalkan jejak dalam pikiran dan hati setiap orang yang kita pernah singgahi dunianya, dengan hubungan yang baik ada pertumbuhan kebaikan yang nantinya terkadang tanpa kita sadari akan kita petik buahnya. Lalu pertanyaan bagaimana kita menjaga atau sebelumnya membangun hubungan, antara lain melalui perhatian, dalam membangun dan menjaga hubungan perlu ada namanya perhatian, dari asal kata hati, bahwa perhatian yang kita beri pun harus benar-benar dari hati, dimulai dari kepekaan kita melihat kebutuhan orang lain, dan diharapkan perhatian yang kita beri dapat menjawab kebutuhan orang lain. Dalam hubungan perlu ada komunikasi yang tulus dan juga langsung menyentuh hati setiap orang. Dalam konsep komunikasi pesan yang dibawa tak akan tersampaikan secara menyeluruh jika si pembawa pesan tertolak, jadi perlu dipastikan bahwa pribadi si pembawa pesan yakni anda sendiri merupakan pribadi yang hangat dan diterima oleh orang lain. Dalam hubungan, tawa dan canda pun resep yang sangat baik dalam minimal membuat orang lain tersenyum untuk sejenak melupakan beban mereka bahkan lebih jauh lagi memberikan kekuatan untuk mereka melangkah lagi. Bicara tentang hubungan pun bicara tentang pengorbanan, harus ada sesuatu baik atau kecil yang kita korbankan ganti hubungan yang terus bertumbuh, contohnya waktu dan tenaga, telinga untuk mendengar, mulut untuk memberikan kata-kata semangat atau motivasi serta sekedar canda gurau, tangan untuk menolong dan menopang orang-orang lain, dan percayalah sebuah kado kecil berupa buku sekalipun merupakan sesuatu yang besar bagi mereka yang kita kasihi. Jadi empat hal dalam membangun dan menjaga hubungan yang sudah dibahas di atas adalah memberi perhatian, menjaga komunikasi, membagikan tawa dan canda, serta memberikan pengorbanan.
Prinsip kedua dalam hidup yang bermakna adalah tetap berkontribusi. Berkarya tidak perduli ukuran besar dan kecil karena merupakan hal yang sangat relatif, tetapi sekali lagi perlu adanya suatu ketulusan dalam memberi apa yang kita punyai. Dengan berkontribusi kita menjadi bagian dari hidup, dari dunia dimana kita berada, bahkan bagi dunia orang lain yang terkecil dan tidak terlihat oleh kebanyakan orang sekalipun. Dalam berkontribusi kita menjadi bagian penting dari kehidupan, tanpa kita rasanya dunia tidak lengkap, dengan mempraktikan nilai itu eksistensi atau keberadaan kita diakui oleh dunia dan jauhnya diakui oleh hidup yang sudah kita maknai. Berkontribusi ibarat mencorat-coret kanvas hidup dengan apa yang kita miliki, dan pada akhirnya kanvas itu berwarna dan hidup pun tidak hanya sekedarnya, karena kita merupakan bagian dari kanvas kehidupan.
Prinsip atau nilai terakhir yang saya percayai dalam menjalani hidup yang bermakna adalah tahu panggilan diri. Apa fungsi dan peran kita dalam kehidupan bukan hanya kita saja yang menentukan atau dalam memaknai hidup bukan hanya diri kita yang berhak memaknai hidup kita, tetapi Tuhan adalah yang paling berhak memaknai hidup kita, dengan talenta yang sudah disediakan, dengan porsi dan kapasitas kita yang terbentuk maka dengan mau mendengar panggilan Tuhan dalam hidup kita, peran dan fungsi kita akan menjadi semakin maksimal, dan hidup yang sudah kita maknai pun menjadi lebih lengkap karena ada makna dari Tuhan yang berdiri dalam barisan-barisan makna hidup yang menjadi alasan untuk kita terus maju menjalani hidup kita, dunia kita, atau dunia dimana kita bersama-sama berada.
Akhir kata, hidup ini terlalu singkat dan membosankan untuk dijalani oleh setiap kita jika masih berpegang dengan prinsip ala kadarnya, kita harus memaknai hidup agar menjadi lebih bermakna, cara-cara yang saya percayai adalah melalui membangun hubungan dengan orang lain melalui perhatian, komunikasi, tawa dan canda, serta pengorbanan. Tetap memberi kontribusi bagi dunia melalui apapun yang kita punya, sepanjang tetap keluar dari hati pasti ada hasil yang baik pada akhirnya. Mengetahui panggilan diri dalam menjalankan fungsi dan peran kita, menyediakan tempat bagi Tuhan dalam memberi makna dalam hidup. Dengan menggenggam prinsip-prinsip erat-erat harapan untuk hidup yang kita jalani menjadi bermakna bertambah besar, kita adalah gambar yang terlihat dalam kanvas hidup, kita adalah bagian dari hidup, kita adalah alasan bagi dunia untuk tetap hidup, bangkit, berlarilah sambil berseru “Hai dunia, saya datang!”.
-FIN-
Dear bapak sukisnarf,
setelah membaca essay anda saya tergerak untuk berkomentar:
heumm, pertamatama:
i d like to say: well done, kus! wat an essay! u describe ur points perfectly n cut it deeper into many shapes n enchanting ur reader into new perspective in thinkin. n yet encourage me bout life paradigm in some extent,,
keduadua:
ive got a question here. saya harap bapak dapat menjawab.
1. berapa lama kontemplasinya pas nulis ni essay pak?
2.u’re talking bout sumthin dat seems that could be easily adopted in real word.(talkin bout how to put values in ur life) but for me, its not as easy as it looks like. even try to ’start’ has been very difficult for me(curhat colongan mode:on)
mungkin bapak sukis(kok kayak pukis), jadi mungkin bapak kus(kayak kus2..heum), nah bapak frans(lebih convincing) apakah anda punya tips soal aplikasi dlm dunia sehali2? atau bahkan mau dijawab dalam posting yg terbaru(mungkin)?
terimakasih
SS di Kampung Baru
Dear Ito,
Wow saya jadi terharu sampai terhereuy hereuy..
dengan ini saya terima kasihnya,
saya akan coba menjawab sesingkat-singkat dan sejelas-jelasnya:
-kontemplasinya gak lama kurang lebih 2-3 Hari, cuma saya ini masih dalam tataran manusia wangsit, yang menulis tergantung mood, belum seperti Becky, dan teman-teman di ibukota JABAR, Universitas Ciumbuleuit, Maupun di Flinders, jadi tulisnya sekali tarikan napas aja, tepatnya semalem sebelum kumpul, hoek hoek.. gak kira-kira.. cuman itu banyak curhatnya jadi pake hati gitu, mungkin itu yang menyentuh.. huhuhu..
-yang ka dua, memang susah sio, tapi tidak mustahil, ditengah kesusahan sayah menerapkan nilai-nilai itu yang terkadang suka merasa bodo sendiri itu pun ternyata masih ada hasil apalagi semenjak kuliah, percaya gak percaya dulu ik dudul banget, sampe bingung mau kuliah apaan, eh nyasar di Hubungan Antara Bangsa (Baca Logat Melayu)
tapi yah sekali lagi ketolong Tuhan pisan,
kalo gak ada Tuhan gw bingung mau ngapain..,
-cara memulai dalam aplikasi sehari-hari izinkanlah saya beserta pikiran dan jiwa ini memberi sebuah tanggapan yang solutif namun tidak dekonstruktif.. (huek..)
itu mah lu kudu banyak ketemu orang, ngobrol, diskusi, tuker pikiran, tanya arti hidup mereka, dan nilai-nilai apa yang mereka anut, percayalah nolongnya banyak banget,
ada temen yang bercanda dan heppi, ada temen yang serius dan suka merenung bersama.. haha
dan yang terakhir anak muda kamu harus banyak berdoa dan meminta penerangan kepada sang Khalik, Doi pasti bantu deh, lebih mantap dari Kecap Manapun,
akhir kata seperti teori HI yang menerangkan apakah kita mau menjadi Agent atau hanya sekedar Peripheri, ih gengsi ah, malu sama Perigigi..
Sekali Berarti Habis Itu Mati..
KSKS
di Ruang Rindu