Dear Blogary,
Sudah lama rasanya tidak menyapa, sudah 2 Bulan semenjak posting terakhir, banyak ceritera yang ada dan terlewat, dari mulai kerja praktik di Kemitraan yang sudah selesai terhitung tanggal 31 Januari 2008, Pembuatan laporan yang merenggut waktu tidur, ‘Getar Bumi’ Signature Moves dari Adrian & Range Motivation (ARM) di Training Fasilitator (TF) Eagle Hills 2008, Event show your love di FJ Square yang mengguncang UPH, Pelatihan Advance Leadership Training 2008 di Mauk, Tangerang. Tapi yang paling berkesan dan membuat diri terus semangat dan tidak mau dan mampu melarikan diri dari kenyataan adalah, perkenalan dengan cinta.

Cinta, ya perkenalan dengan cinta. mungkin dalam hidup ini sudah terlalu banyak cinta dan perhatian yang dicurahkan kepada saya, dari keluarga terutama Pap, Mam, dan De, yang semakin bertambahnya usia, saya semakin menyadari betapa penting dan signifikan cinta dan perhatian mereka terhadap saya dan perjalanan kehidupan saya. Cinta dari Tuhan dan Raja saya yang tidak bersyarat yang sangat mengubah hidup dan cara pandang saya terhadap perjalanan transit saya di ‘Terminal Dunia’ yang sementara ini. Cinta dari almarhum Ema’ Situ Aksan, Ema’ Yulianti (Dad’s Mom) yang terus memberikan kasih dan perhatian serta doanya dengan kucuran air mata yang saya selalu bingung ketika didoakan sewaktu kecil dan badung setiap saya berkunjung ke Rumah Situ Aksan, yang kini menjadi Taman Kanak-Kanak sepeninggal Ema’ dari dunia. Cinta dari almarhum Ema’ Bertha (Mom’s mom) yang meski setiap Sin Cia pernah memberikan amplop merah berisi seribu rupiah namun selalu memperhatikan saya ketika kecil ketika lapar dan belum tidur, selalu mengingatkan “Hees atuh!” (ayo tidur!). Cinta dari para kakak sepupu, Om dan Tante, semua keluarga dari Pap, Mam, di Bandung dan Sumedang yang terus memberikan perhatian tanpa meminta apa-apa. Bagi saya inilah cinta dari keluarga besar, ikatan “Blood is Thicker than Water” membuat adanya tali darah yang mempersatukan di antara semua keluarga. Cinta yang jenis ini saya sudah dan terus merasakannya hingga kini, meski jarang bertemu dengan saudara-saudara yang tersebar pun, ketika pertemuan itu tiba minimal ada bagian dari Cinta yang masih dibagi, Ah Cinta memang Aneh.
Tapi di sini saya mau berbicara tentang Cinta yang lain, beberapa teman berkata, saya termasuk orang yang lugu (bahasa halus dari bodoh), kurang pengalaman dan terlalu cepat jatuh Cinta. bagi saya peduli tidak peduli orang lain mau berkata apa, bagi saya, sayalah yang paling tepat dan berhak mendefinisikan Cinta itu. Sedikit berfilosofi, ketika kita berkata Aku Cinta Kamu, dilain sisi, si Aku itu pastilah berharap atau menuntut si Kamu membalas Cintanya. Di sini bisa terlihat suatu ketidakadilan, mengapa untuk mencintai seseorang di lain sisi kita malah menuntut dia untuk melakukan hal yang sama dengan mencintai kita sebanyak yang kita lakukan. ah Cinta memang aneh.
Cinta adalah Afeksi, perasaan dan keinginan untuk terus melihat dan bertemu dalam konteks fisik, Afeksi dalam melihat wajahnya, menggandeng tangannya, mendengar suaranya, mencium aroma tubuhnya, menyaksikan tawanya, memperhatikan setiap gerak-geriknya, menertawakan kebodohannya (sekali lagi lugu), merindukan panggilannya, bahkan membelai rambutnya, memeluk tubuhnya, mengecup keningnya, menikmati perhatiannya, menyimak cerita-ceritanya, menghibur keluh kesahnya, membayangkan dirinya untuk selalu ada, dan tidak mau barang sekejap, tidak ada gambaran atau profil dirinya yang menemani. Ah Cinta memang aneh.
Cinta adalah Posesi. Cinta membuat adanya perasaan ingin memiliki, bukan hanya dalam artian kepemilikan, bahwa dia adalah milikku seorang, bukan hanya dalam artian tidak ada yang boleh mengganggu dan merusaknya, tidak jelas tidak hanya sesempit itu, Cinta adalah posesi dalam artiannya, kurang lebih senada dengan ketidakbolehan dan ketidakbisaan si-aku untuk kehilangan dia, jangan sampai dia tidak ada lagi, figur dan eksistensi dia yang sangat berharga bagi diri, membuat posesi ditempatkan lebih dari hanya sekedar ketamakan atau keserakahan pribadi. posesi dalam artian yang dapat dibenarkan, yang membuat kita mau berkorban bagi dia yang berharga dan bernilai lebih di pemandangan kita, dia yang adalah cinta. Cinta yang terus dipeluk seerat mungkin dan tak akan kulepas. ah Cinta memang aneh.
Cinta adalah kesepakatan, prinsip konsensus yang membuat cinta bisa bertahan dan bertumbuh, dimana aku dan kamu harus sepakat dalam Cinta, sehingga konsensus dapat terjadi, dan CINTA bisa berdiri. Mana ada Cinta yang bertepuk sebelah tangan, ketika seorang mau menCintai sesuai dengan konsensus yang ada, dipastikan ada jari-jemari kecil yang sudah menggenggam, sehingga biar waktu yang menjawab akankah jari-jemari itu menepuk dan menggenggam erat seluruh telapak tangan kita. Pertanyaannya adalah, kapankah waktu mau menjawab sang Cinta, sebelum semuanya berakhir. Ah Cinta memang Aneh…
Melihat Video Klip LETTO “Permintaan Hati” yang di dalam sebuah adegannya, sang perempuan berkata pada sang lelaki bahwa seharusnya mereka menciptakan sebuah kata baru yang menunjukan perasaannya sekarang, sebuah kata di atas kata ‘Sayang’, sebuah kata di atas kata ‘Cinta’, “Karena perasaanku padamu lebih dari sekedar Cinta dan Sayang”. dan sang lelaki berujar, “Bagiku inilah CINTA, karena Cinta adalah sesuatu yang Hakiki”. Ya, saya setuju, Cinta adalah hal yang absolut, tidak ada batasan mengenai Cinta, bahkan lingua dan parole, bahasa verbal dan non-verbal tidak bisa membatasi, atau menjelaskan secara detail, karena CINTA ada bukan untuk dipikir, tetapi untuk dirasa, sebuah buah dari perasaan, perjalanan terpanjang, dari pikiran menuju perasaan. Siapa yang berhak membatasi Cinta harus tumbuh dalam rentan waktu tertentu, dan jika terlalu cepat maka itu hanya sekedar kekaguman, dan bukan Cinta, hanya keputusan sesaat. Ah lagi-lagi Cinta memang aneh.
Sebagai penutup dari cuap-cuap kali ini, saya hendak mengutip judul album sebuah grup musik indonesia yang berjudul “If Loving You is Wrong, I Don’t want to be Right.” yah kalau mencintai kamu itu adalah suatu hal yang salah, biarkanlah aku berada di dalam kesalahan itu, tak mau menjadi benar jika tidak bisa mencintai, merasakan, dan memiliki dirimu. Cinta memang membuat kemapanan menjadi tidak mapan, batas-batas logika didobrak, kelenjar-kelenjar hormonal yang terus menghasilkan Chemistry, perasaan-perasaan yang liar tak terkendali seakan berjanji pada pikiran-pikiran yang terus menghadirkan nuansa dirimu yang berlalu lintas di angan-angan. Mimpi dan Harapan di setiap pagi datang, aku harus bertemu dengan dirimu, kebersamaan yang terjadi membuat waktu seakan ingin dibekukan, agar ada keabadian yang mengikat kita. Pahitnya kenyataan seakan tidak menghalangi sang Cinta untuk tetap ditegakan sebagai prasasti dan peninggalan perasaan milik aku pada dirimu. Realita dan Angan mungkin tidak selamanya selalu saling memalingkan mukanya, ada sebuah harap di batas waktu nanti bahwa Cinta akan datang dan mempersatukan kita,
Ya! KITA, si-AKU dan si-KAMU untuk selamanya.
Ah Cinta Memang Aneh..